Sabtu, 11 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren dan Praktik Collective Care di Lingkungan Pesantren

    Bertumbuh bersama Pesantren

    Bertumbuh Bersama Pesantren: Menjadi Alim, Saleh, dan Kafi

    Kesehatan Mental Disabilitas

    Kesehatan Mental Disabilitas Belum Menjadi Prioritas

    Perkawinan Anak

    Peran Strategis Pesantren dalam Mencegah Perkawinan Anak

    Pengadilan Agama

    Teras Pengadilan Agama, Asas Hukum, dan Harapan Lain tentang Perceraian

    Menjadi Pemimpin

    Kalau Masih Seksis dan Misoginis Jangan Menjadi Pemimpin

    Persahabatan

    Persahabatan Sejati dalam Terang Ensiklik Fratelli Tutti

    Kemandirian Manusia

    Kemandirian Manusia: Mitos yang Dibongkar Difabel

    Anak Muda

    Anak Muda dan Krisis Kecukupan di Era Digital

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Luka Dalam Aborsi

    Luka Dalam Setelah Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Cara Penanganannya

    Infeksi Aborsi

    Kapan Infeksi Setelah Aborsi Menjadi Berbahaya? Ini Tanda-Tandanya

    Infeksi setelah Aborsi

    Infeksi Setelah Aborsi: Penyebab, Gejala, dan Cara Penanganan Awalnya

    Aborsi

    Pasien Pingsan Setelah Aborsi? Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    Pendarahan Aborsi

    Pendarahan Hebat Setelah Aborsi, Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    Pasca Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi yang Mengancam Nyawa, Ini 5 Langkah Penanganan Lanjutannya

    Pasca Aborsi

    7 Langkah Darurat Menangani Pendarahan Pasca Aborsi sebelum Dirujuk ke Rumah Sakit

    Pendarahan pasca aborsi

    Cara Menghentikan Pendarahan yang Berlebihan Pasca Aborsi

    Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Langkah Pertolongan Pertama

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren dan Praktik Collective Care di Lingkungan Pesantren

    Bertumbuh bersama Pesantren

    Bertumbuh Bersama Pesantren: Menjadi Alim, Saleh, dan Kafi

    Kesehatan Mental Disabilitas

    Kesehatan Mental Disabilitas Belum Menjadi Prioritas

    Perkawinan Anak

    Peran Strategis Pesantren dalam Mencegah Perkawinan Anak

    Pengadilan Agama

    Teras Pengadilan Agama, Asas Hukum, dan Harapan Lain tentang Perceraian

    Menjadi Pemimpin

    Kalau Masih Seksis dan Misoginis Jangan Menjadi Pemimpin

    Persahabatan

    Persahabatan Sejati dalam Terang Ensiklik Fratelli Tutti

    Kemandirian Manusia

    Kemandirian Manusia: Mitos yang Dibongkar Difabel

    Anak Muda

    Anak Muda dan Krisis Kecukupan di Era Digital

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Luka Dalam Aborsi

    Luka Dalam Setelah Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Cara Penanganannya

    Infeksi Aborsi

    Kapan Infeksi Setelah Aborsi Menjadi Berbahaya? Ini Tanda-Tandanya

    Infeksi setelah Aborsi

    Infeksi Setelah Aborsi: Penyebab, Gejala, dan Cara Penanganan Awalnya

    Aborsi

    Pasien Pingsan Setelah Aborsi? Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    Pendarahan Aborsi

    Pendarahan Hebat Setelah Aborsi, Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    Pasca Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi yang Mengancam Nyawa, Ini 5 Langkah Penanganan Lanjutannya

    Pasca Aborsi

    7 Langkah Darurat Menangani Pendarahan Pasca Aborsi sebelum Dirujuk ke Rumah Sakit

    Pendarahan pasca aborsi

    Cara Menghentikan Pendarahan yang Berlebihan Pasca Aborsi

    Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Langkah Pertolongan Pertama

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

MERAWAT Pesantren dan Praktik Collective Care di Lingkungan Pesantren

Active listening bukan sekadar memberi kesempatan orang lain berbicara. Ia menuntut seseorang hadir sepenuhnya untuk memahami apa yang sedang lawan bicara rasakan tanpa menghakimi.

Fitri Nurajizah by Fitri Nurajizah
10 Juli 2026
in Publik
A A
0
Merawat Pesantren

Merawat Pesantren

22
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Selama mengikuti pelatihan kesehatan mental melalui Program MERAWAT (Mental Health, Equity and Relational Wellbeing Transformation) Pesantren yang diselenggarakan Pondok Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina pada 5–6 Juni 2026, ada satu istilah yang terus berulang saya dengar, yaitu collective care atau perawatan kolektif. Collective care merupakan cara pandang yang menempatkan kesehatan mental sebagai tanggung jawab bersama, bukan lagi beban yang harus dipikul oleh setiap individu.

Melansir tulisan Syifa Maulida di Magdalene.co, collective care memuat prinsip kesalingan. menjadi manifestasi dari hubungan yang dibangun berdasarkan dukungan, kasih sayang, dan pengertian, bukan semata-mata ikatan darah. Sementara itu, laman Act Build Change menjelaskan bahwa collective care merupakan praktik tanggung jawab komunal terhadap kesehatan dan kesejahteraan emosional setiap individu dalam sebuah kelompok.

Di lingkungan pesantren, praktik ini sangat penting dan mereka butuhkan. Pesantren tidak hanya menjadi tempat belajar agama, tetapi juga ruang hidup bersama yang mempertemukan beragam latar belakang, pengalaman, dan persoalan setiap orang. Karena itu, menjaga kesehatan mental tidak cukup membebankan kepada mereka. Sebab, seluruh ekosistem pesantren harus saling menguatkan dan menghadirkan dukungan.

Hal yang sama seperti Nyai Nurul Bahrul Ulum, Pengasuh Pondok Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina sampaikan. Menurutnya, banyak pengasuh maupun pendamping santri merasa tidak perlu menunjukkan sisi rapuh mereka di hadapan santri. Sebagian khawatir akan memandang sebagai orang dewasa yang lemah atau bahkan terlalu berlebihan.

Keterbukaan Pengasuh

Padahal, menurutnya, keterbukaan pengasuh dan pendamping terhadap kerentanan diri justru memudahkan terbangunnya bonding dengan santri. Ketika orang dewasa berani mengakui bahwa mereka juga pernah merasa lelah, cemas, atau rapuh, santri akan lebih mudah merasa menerima. Mereka menyadari bahwa setiap orang memiliki kerentanannya masing-masing. Kesadaran inilah yang kemudian menumbuhkan rasa sepenanggungan, sehingga tidak ada yang merasa berjuang sendirian.

Pandangan tersebut sejalan dengan pendapat Mellin, aktivis perempuan yang Syifa Maulida kutip dari Magdalene.co. Menurutnya, collective care menghadirkan perasaan included atau menjadi bagian dari suatu kelompok. Perasaan mudah menerima menjadi bagian dari komunitas memiliki dampak psikologis yang penting. Santri menjadi lebih percaya diri, lebih berani mencari dukungan, sekaligus terdorong untuk saling menjaga satu sama lain.

Praktik saling menguatkan ini juga selaras dengan pemikiran Catherine Fennell dalam bukunya Last Project Standing: Civics and Sympathy in Post-Welfare Chicago. Ia menjelaskan bahwa praktik merawat satu sama lain lahir dari relasi yang ia bangun atas kemampuan untuk bersimpati, berempati, dan merasakan apa yang sedang orang lain alami.

Dengan kata lain, collective care bukan hanya tentang memberi bantuan, tetapi juga tentang keberanian menyampaikan apa yang ia rasakan serta kesediaan mendengarkan pengalaman orang lain dengan penuh empati.

Gagasan tersebut juga dapat kita lihat dalam tagline Program MERAWAT yang Nani Munayah tulis di Mubadalah.id: “Berbicara untuk kita pahami, mendengarkan untuk memahami.”

Mendengarkan secara Aktif

Dalam kegiatan MERAWAT Pesantren, prinsip collective care ini mereka kuatkan melalui berbagai materi, salah satunya latihan mendengarkan secara aktif atau kita kenal dengan istilah (active listening).

Active listening bukan sekadar memberi kesempatan orang lain berbicara. Ia menuntut seseorang hadir sepenuhnya untuk memahami apa yang sedang lawan bicara rasakan tanpa menghakimi. Dalam sesi ini, santri akan mereka latih untuk mempraktikkan mindfulness ketika mendengarkan cerita orang lain. Sekaligus belajar berempati terhadap pengalaman yang mereka alami.

Keterampilan ini penting untuk seluruh ekosistem pesantren miliki, mulai dari pengasuh, musyrif, musyrifah, hingga santri. Sebab, hubungan yang sehat harus mereka bangun dengan kesediaan untuk mendengarkan tanpa menghakimi.

Sebagai bagian dari komunikasi yang setara, active listening menjadi fondasi penting dalam praktik collective care. Ketika setiap orang merasa ada yang mendengar dan menerima, maka rasa percaya akan tumbuh. Dari situlah seluruh setiap orang di pesantren saling bekerja sama untuk mengupayakan kesejahteraan mental, baik bagi hidupnya sendiri maupun orang lain.

Jadi Dasar dari Proses Pendampingan

Melansir dari Grand Rising Behavioral Health, active listening merupakan salah satu dasar dalam proses pendampingan kesehatan mental. Ketika seseorang dapat menyampaikan pengalaman dan perasaannya tanpa takut dihakimi, ia akan merasa dipahami dan dihargai. Perasaan tersebut membuat seseorang lebih berani mengungkapkan kecemasan, kesedihan, maupun persoalan yang selama ini dipendam sendirian.

Dalam konteks collective care di pesantren, active listening menjadi pintu masuk untuk membangun budaya saling merawat. Ketika pengasuh, musyrif, musyrifah, dan santri saling mendengarkan dengan penuh empati tanpa menghakimi. Sehingga setiap orang akan merasa diterima dan tidak menghadapi persoalannya sendirian.

Perasaan dan pengalaman yang mendapatkan validasi juga dapat mengurangi rasa terasing, menumbuhkan rasa aman. Serta mendorong seseorang untuk berani mencari pertolongan ketika menghadapi kesulitan.

Dengan demikian, ruang deep talk bukan hanya menjadi ruang berbagi cerita, tetapi juga ruang untuk belajar saling mendengarkan dengan aktif dan penuh empati. Dari proses ini lah, diharapkan setiap orang di pesantren dapat merasa diterima, saling merawat dan menjaga kesehatan mental diri sendiri dan orang lain. []

Tags: Collective CareLingkunganMERAWAT PesantrenpesantrenPraktik
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Bertumbuh Bersama Pesantren: Menjadi Alim, Saleh, dan Kafi

Fitri Nurajizah

Fitri Nurajizah

Perempuan yang banyak belajar dari tumbuhan, karena sama-sama sedang berproses bertumbuh.

Related Posts

Perkawinan Anak
Publik

Peran Strategis Pesantren dalam Mencegah Perkawinan Anak

10 Juli 2026
Mencegah Kekerasan Seksual
Personal

Kenapa Sanksi Saja Tidak Cukup Untuk Mencegah Kekerasan Seksual di Pesantren?

7 Juli 2026
Aborsi legal
Pernak-pernik

Sulitnya Akses Aborsi Legal dan Bahaya Praktik Aborsi Ilegal

1 Juli 2026
Pesantren
Publik

Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Ikhtiar Membangun Ruang Aman di Pesantren

23 Juni 2026
Pesantren Ekologi Ath Thaariq
Disabilitas

Ruang Inklusif bagi Disabilitas di Pesantren Ekologi Ath Thaariq

19 Juni 2026
Kekerasan Seksual di Pesantren
Aktual

Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

11 Juni 2026
Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • MERAWAT Pesantren dan Praktik Collective Care di Lingkungan Pesantren
  • Bertumbuh Bersama Pesantren: Menjadi Alim, Saleh, dan Kafi
  • Luka Dalam Setelah Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Cara Penanganannya
  • Kesehatan Mental Disabilitas Belum Menjadi Prioritas
  • Peran Strategis Pesantren dalam Mencegah Perkawinan Anak

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0